Langit Senja

Nikmati keindahan alam sekitar membuat pikiran anda akan lebih tenang.

Alam

Alam adalah masa depan anak cucu kita. Jika kita merusak alam maka kita merusak masa depan anak cucu kita.

Langit

Sedekat ini kita dengan langit, namun kita selalu menjauh dari-Nya.

Binatang

Lindungilah mereka

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 30 April 2015

Gigi Berlubang Pada Anak Dapat Menurunkan Prestasi Di Sekolah

Anak-anak yang mengalami sakit pada gigi berlubang kecenderungan lebih banyak tidak masuk ke sekolah, mau tidak mau kondisi ini juga mempengaruhi prestasi belajar murid.

Pepsodent berhasil melakukan penelitian yang dilakukan bersama Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan FKG UI mengenai masalah kesehatan gigi dan mulut. Penelitian dilakukan di sekolah dasar Bekasi. Penelitian terhadap 984 responden dari tiga SD di daerah Bekasi memperlihatkan fakta bahwa 94 persen anak usia 6-7 tahun mengalami sedikitnya satu gigi berlubang pada gigi susu. Masalah yang sama juga dialami anak usia 10-11 tahun sebanyak 82 persen pada gigi tetap mereka. 

"Pepsodent meyakini bahwa gigi berlubang tak hanya membuat anak mengalami rasa sakit, namun juga akan mempengaruhi kehadiran anak di sekolah," papar drg. Ratu Mirah Afifah GCClinDent, MDSc selaku Head of Professional Relationship Oral Care PT. Unilever Indonesia, Tbk. saat ditemui di Hotel Mulia Senayan Jakarta Pusat Rabu 25 Februari 2015.
Terbukti, lanjutnya, ketika kami amati lebih lanjut dalam 2 bulan sebelum dan 2 bulan sesudah penelitian anak-anak dari kelompok umur 6-7 tahun yang memiliki lubang pada gigi tetap mereka, memperlihatkan kecendrungan lebih banyak hari tidak ke sekolah dibanding pada anak yang tidak memiliki gigi berlubang. Jumlah hari tidak ke sekolah adalah 3 hari, sedangkan yang tidak memiliki gigi berlubang adalah 2 hari. 
Menurutnya, penelitian yang dilakukan Pepsodent dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia selama hampir setahun dengan delapan minggu program edukasi perawatan gigi tersebut tidak hanya melihat indikator kebersihan rongga mulut. Indeks plak dan pendidikan untuk perawatan gigi pada guru, murid, dan wali murid juga dilakukan.
Indeks plak tinggi yang ditemukan setelah melakukan pemeriksaan awal mencapai 49 persen pada anak usia enam sampai tujuh tahun dan 38 persen pada anak usia 10 sampai 11 tahun. Setelah intervensi dengan program edukasi perawatan gigi yang benar diberikan, penurunan dari angka sebelumnya mencapai 54 persen pada kelompok anak umur enam sampai tujuh tahun, sedangkan pada kelompok anak usia 10-11 tahun mencapai 66 persen.
"Plak memang musuh utama dari banyak masalah gigi, termasuk gigi berlubang. Oleh karena itu berapa kali menyikat gigi dan kualitasnya harus ditingkatkan sebagai kebiasaan baik untuk mencegah masalah gigi yang dapat mempengaruhi prestasi anak di sekolah," kata drg Ratu Mirah.
Fuad, seorang siswa sekolah dasar negeri 11, Kebon Jeruk dalam kesempatan yang sama juga berbagi cerita mengenai pengalaman sakit gigi yang pernah ia dialami.
"Waktu kelas 3 semester 1, saya sering sakit gigi. Kalau tidak masuk sekolah, saya tidur di kelas supaya sakitnya tidak terasa. Karena sering ketinggalan pelajaran, ranking saya turun dari 3 menjadi ranking 5," tuturnya, pada kesempatan yang sama.
Penelitian terhadap anak usia sekolah dasar, khususnya pada anak usia enam sampai tujuh tahun dan 10-11 tahun didasarkan pada alasan khusus. Drg Ratu Mirah mengatakan bahwa usia 6-7 dipilih karena pada usia tersebut anak masih memiliki gigi susu dan sudah mulai memiliki gigi permanen. Sementara anak usia 10-11 tahun sudah memiliki gigi permanen yang hampir lengkap.
"Ini menjadi pertimbangan kami untuk melihat sejauh mana kebiasaan membersihkan gigi dilakukan oleh anak-anak sampai mereka mulai menumbuhkan gigi permanen. Penelitian kami menemukan bahwa pada usia di mana gigi permanen baru tumbuh, masih ada masalah gigi berlubang. Oleh karena itu, edukasi dan intervensi kebersihan gigi sangat diperlukan sejak dini," tutup drg. Ratu Mirah sekaligus memberikan pesan kepada orang tua.
So Sahabat USee , jangan bosan-bosan ajarkan anak Anda untuk menyikat gigi 2 kali sehari, setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur ya! :)     
 (Sumber: www.vemale.com)
  

Jumat, 25 April 2014

Koleksi Foto Saya

Sebelumnya saya meminta maaf kepada pengunjung blog ini, karena bahasa yang akan digunakan dalam setiap postingan blog ini adalah Bahasa Indonesia yang sepertinya membosankan dengan kata lain Bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD. Penggunaan bahasa seperti ini adalah dengan tujuan untuk melestarikan Bahasa Indonesia, karena seperti yang anda ketahui penggunaan bahasa indonesia saat ini di Negara Indonesia sendiri sangat minim.
Kembali ke tujuan semula
Berawal dari kecintaan saya terhadap alam, saya mulai berinisiatif untuk menganbadikan beberapa pemandangan yang menurut saya indah. :D
Berikut ini adalah beberapa foto yang telah saya ambil:

Kamis, 20 Maret 2014

Iman, Islam, Ihsan


      Iman adalah membenarkan (mempercayai) Allah Yang Maha Esa dan segala apa yang datang dari-Nya sebagai wahyu melalui rasul-rasul-Nya dengan kalbu, mengikrarkan dengan lisan, dan mengerjakan dengan anggota badan.
      Islam adalah suatu diin (keyakinan) samawi yaitu keyakinan yang bersumber dari wahyu Allah yang berbentuk kitab suci seperti halnya agama Yahudi asli dan Nasrani asli. Islam bukan agama budaya atau agama yang dibentuk dari hasil pemikiran, hikayat atau kebiasaan/adat yang menggunakan budaya sebagai tonggaknya. Pilar islam sebagai suatu agama adalah keyakinan yang benar, keyakinan yang konsisten antara pernyataan (dalam hati dan lisan) dan kenyataan (amal perbuatan). Tonggak keyakinan adalah keyakinan akan adanya kebenaran yang harus diakui, yaitu kebenaran Allah dan yang dikehendakiNya.
      Ihsan ialah aspek ajaran islam yang membicarakan tentang bagaimana seorang muslim bersikap kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya dan bertingkah laku kepada sesama, dan hal ini sering disebut ilmu akhlak atau ilmu tasawuf.

Untuk  lebih jelasnya silahkan download file yang membahas Iman, Islam, Ihsan DI SINI

Kamis, 24 Oktober 2013

Ejaan dan Tanda Baca


A. Latar Belakang Masalah
      Ada dua kasus yang melatari penerapan EYD sebagai salah satu kriteria kelayakan sebuah naskah. Kasus pertama yaitu terkadang tidak mampunya Pedoman EYD menjawab beberapa persoalan dalam masalah tatatulis naskah, baik dalam penggunaan kata baku, istilah, tanda baca, maupun singkatan/akronim. Kasus kedua yaitu kurangnya pemahaman penulis naskah, termasuk penerjemah, terhadap EYD itu sendiri sehingga kesalahan-kesalahan elementer dalam penulisan naskah masih sering terjadi, seperti penggunaan kata nonbaku dan penggunaan tanda baca yang keliru.
      Dalam kasus pertama, buku Pedoman EYD ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak bisa semata-mata dijadikan acuan untuk menilai kelayakan naskah, pun termasuk dijadikan satu-satunya referensi untuk penyuntingan naskah. Karena itu, para penulis ataupun penerbit perlu mencari solusi kebahasaan yang lain dan menetapkan suatu keputusan yang ajek sebagai gaya penulisan.
      Sebetulnya masalah untuk kasus pertama ini sudah lama dikaji dan akhirnya munculah gagasan membuat semacam buku pedoman gaya selingkung (house style) penerbitan dalam bahasa Indonesia. Pada awalnya gagasan ini akan dilaksanakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas. Akan tetapi, entah mengapa sampai sekarang buku pedoman gaya selingkung ini tidak pernah selesai.

Untuk lebih jelasnya silahkan download file tersebut di sini.




Rabu, 23 Oktober 2013

Contoh Artikel

Kali ini saya akan berbagi contoh artikel kepada sahabat EduShared. Untuk menjaga Format file yang akan saya bagikan, saya mengupload file tersebut untuk didownload.
Silahkan download file tersebut di sini .

Jika menemukan kerusakan pada link download segera laporkan kepada admin, dengan cara mempostkan komentar pada postingan tersebut. Terimakasih